II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Biologis Ikan Sampel
2.1.1
Klasifikasi
Ikan lele
menurut klasifikasi berdasar taksonomi digolongkan sebagai berikut :
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Siluroidae
Famili : Clariidae
Genus : Clarias sp (Kimbal Jhon W, 1993)
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Siluroidae
Famili : Clariidae
Genus : Clarias sp (Kimbal Jhon W, 1993)
2.1.2
Morfologi
Ikan lele (Clarias batrachus) memiliki ciri morfologi pada bentuk tubuh
pencapampuran dari compress, depress, dan taeniform. Ikan lele memiliki bentuk
badan yang memanjang, berkepala pipih, tidak bersisik, memiliki empat pasang
kumis (Sungut) yang memanjang sebagai alat peraba, dan memiliki alat
pernapasan tambahan (arborescent
organ). Ikan lele memiliki bentuk sirip berpinggiran tegak ( truncate ) (Rahman, A.K.A., 2009).
Lele mempunyai warna tubuh hitam
keunguan atau kemerahan dengan bintik-bintik yang tidak beraturan. Lele
mempunyai kepala dengan ukuran hampir seperempat dari panjang tubuhnya. Ikan
ini tidak memiliki sisik sehingga kulitnya licin dan berlendir yang berfungsi
untuk melindungi dari gesekan benda-benda
asing. Lele mempunyai sungut yang
terletak di dekat mulut dan berfungsi sebagai alat penciuman dan peraba saat
mencari makan (Najiyati, 2003).
Ikan lele memiliki bentuk badan
yang memanjang, berkepala pipih, tidak bersisik, memiliki empat pasang kumis
yang memanjang sebagai alat peraba, dan memiliki alat pernapasan tambahan.
Bagian depan badannya terdapat penampang melintang yang membulat, sedangkan
bagian tengah dan belakang berbentuk pipih sehingga ikan lele sangat mudah
dibedakan dari jenis-jenis ikan lainnya
(Djarijah, 2009).
Lele mempunyai bentuk tubuh
memanjang, berlendir, dan tidak memiliki sisik. Bentuk kepala dari ikan lele
yaitu depress dengan mulut yang relatif lebar dan mempunyai 4 buah sungut. Lele
mempunyai sirip berpasangan yaitu sirip perut dan sirip dada. Pada sirip dada
terdapat sirip yang mengeras dan runcing sehingga disebut dengan patil yang
berfungsi sebagai alat gerak dan alat untuk melindungi tubuhnya dari gangguan
(Amri, 2008).
2.1.3
Habitat
Habitat ikan lele sangkuriang sama
dengan jenis lele lainnya yaitu semua perairan
tawar dan
relatif tahan terhadap
kondisi air yang
kurang baik. Di alam,
ikan lele hidup di sungai-sungai
yang arusnnya mengalir lambat, danau, waduk, telaga, rawa, serta genangan air,
seperti kolam (Mahyuddin, 2008).
Habitat ikan lele di sungai dengan arus air yang
perlahan, rawa, telaga,
waduk, sawah yang tergenang air, semua perairan tawar dapat menjadi lingkungan
hidup atau habitat lele dumbo misalnya waduk, bendungan,
danau, rawa, dan genangan air tawar lainnya. Di alam bebas, lele dumbo ini
memang lebih menyukai air yang arusnya
mengalir secara perlahan
atau lambat. Aliran air arus
yang deras lele
dumbo kurang menyukainya (Suyanto, S. Rachmatun. 2008).
Lele merupakan hewan yang hidup di
perairan tawar seperti sungai, saluran irigasi, air tanah dari sumber mata air,
maupun air sumur. Lele tidak pernah ditemukan pada air asin maupun air payau.
Lele mampu hidup pada kolam yang memiliki padat tebar tinggi dan dalam kolam
yang memiliki kadar oksigen rendah. Ikan lele mampu hidup di air yang memiliki
rendah karena lele memiliki alat pernafasan tambahan yang disebut labirin.
Labirin ini dapat digunakan untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Lele
termasuk hewan nocturnal yaitu aktif bergerak dan mencari makan pada malam hari
(Saparinto dan Cahyo, 2009).
2.2
Pengertian Darah
2.2.1
Eritrosit
Eritrosit pada ikan merupakan jenis
sel darah yang paling banyak jumlahnya. Bentuk eritrosit pada semua jenis ikan
hampir sama. Eritrosit pada ikan
memiliki inti, seperti pada bangsa burung dan reptil. Jumlah eritrosit
pada ikan teleostei berkisar antara
(1,05 - 3,0) x 106 sel/mm3 (Irianto 2009).
Sel darah merah atau eritrosit berbentuk cakram kecil bikonkaf,
cekung pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping tampak seperti dua
buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Dalam setiap mm3
darah terdapat 5.000.000 sel darah. Bila dilihat satu per satu warnanya kuning
pucat, tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah dan memberi warna pada darah.
Strukturnya terdiri atas pembungkus luar atau stroma dan berisi masa
hemoglobin. Sel darah merah terbentuk di dalam sumsum tulang (Pearce, 2002).
Darah merupakan cairan yang terdiri
atas plasma darah dan sel-sel darah. Darah berwarna merah terang apabila kaya
akan oksigen dan berwarna merah gelap apabila kekurangan oksigen. Volume darah
keseluruhan yaitu sebanyak satu per dua belas berat badan atau sekitar 5 liter.
Darah berfungsi sebagai media transportasi, pengaturan suhu, serta pemeliharaan
keseimbangan cairan. Sel-sel darah terdiri atas eritrosit, leukosit, dan
trombosit (Evelyn, 2006).
Eritrosit memiliki bentuk cakram
dan tidak memiliki inti. Warna pada sel darah merah yaitu kuning kemerahan
karena mengandung hemoglobin. Apabila darah banyak mengandung oksigen maka akan
menghasilkan warna merah terang. Ukuran dari sel darah merah atau eritrosit
yaitu mempunyai garis tengah 5,0 – 7,34 mikron. Fungsi dari sel darah merah ini
yaitu untuk mentransportasikan oksigen (Jain, 1986).
2.2.2
Leukosit
Leukosit adalah sel darah yang
mengandung inti, disebut juga sel darah putih. Rata-rata jumlah leukosit dalam
darah manusia normal adalah 5000-9000/mm3 bila jumlahnya lebih dari
10.000/mm3, keadaan ini disebut leukositosis, bila kurang dari
5000/mm3 disebut leukopenia (Ethel Sloane, 2007).
Sel darah putih atau leukosit
memiliki bentuk lebih besar terdiri sel darah merah. Bentuk sel darah putih
adalah limfosit, basofil, neutrofil, monosit dan eosinofil. Fungsi leukosit adalah membunuh kuman penyakit dalam tubuh dan
membentuk antibodi tubuh. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen
yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan
tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme dan mengandung
berbagai bahan penyusun system imunyang bertujuan mempertahankan tubuh dari
berbagai penyakit (Tadeus, 2009).
Ada 2 macam tipe leukosit yaitu granular dan
agranular. Granulosit adalah leukosit sirkular dan memiliki granule pada sitoplasmanya.
Sedangkan agranulosit tidak memiliki granule pada sitoplasmanya. Granulosit
terdiri atas 3 tipe yaitu sel metrofil, dimana paling banyak dijumpai, mewarnai
dirinya dengan pewarna netral atau campuran pewarna asam basa dan tampak
berwarna ungu; sel eusinofil, dimana sel ini sedikit dijumpai, penyerap warna
yang bersifat asam atau eosin dan kelihatan merah; sel basofil yang menyerap
pewarna basa dan menjadi biru. Sedangkan agranulosit terdiri atas monosit, yang
berfungsi untuk menutup daerah luka, membungkus dan memfagosit setelah netrofil
dan basofil (Pearce, 2002).
2.2.3
Plasma Darah
Plasma darah merupakan komponen
terbesar dalam darah, karena lebih dari separuh darah mengandung plasma darah.
Hampir 90% bagian dari plasma darah adalah air. Plasma darah berfungsi untuk
mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari sel ke
tempat pembuangan. Fungsi lainnya adalah menghasilkan zat kekebalan tubuh
terhadap penyakit atau zat antibodi (Darmadi, 2009).
Plasma darah yaitu cairan berwarna
kekuning-kuningan yang terdiri dari 90% air dan sisanya yaitu zat-zat yang
terlarut di dalamnya. Zat yang terlarut dalam plasma darah yaitu zat makanan
dan mineral seperti glukosa, asam amino serta garam-garam mineral. Selain itu,
zat yang terlarut seperti zat yang diproduki sel dan protein darah. Fungsi dari
plasma darah yaitu untuk mengatur keseimbangan antara asam dan basa yang ada di
dalam tubuh agar tidak merusak jaringan tubuh (D’Hiru, 2013).
Plasma darah pada manusia bersifat
jernih kekuningan mengandung fibrinogen (zat yang membantu
proses pembekuan darah). Mengandung 95% berupa air, sisanya zat terlarut
termasuk garam. Dan berfungsi sebagai pengangkut sari makanan, vitamin mineral,
hormon dan menjaga keseimbangan cairan darah (Sonjaya, 2005).
2.3
Kadar Hematokrit
Hematokrit (mikro)
adalah volume eritrosit yang dipisahkan
dari plasma dengan memutarnya di dalam tabung khusus yang nilainya
dinyatakan dalam persen. Nilai
normal hematokrit disebut dengan
%, nilai untuk pria
40-48 vol % dan untuk wanita
37-43 vol %. Penetapan hematocrit cara manual (metode mikro) dapat dilakukan
sangat teliti, kesalahan metodik
rata-rata ± 2 %
(Gandasoebrata, 2007).
Hematokrit adalah
volume eritrosit yang dipisahkan dari plasma dengan memutarnya di dalam tabung
khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen. Nilai hematokrit digunakan untuk
mengetahui nilai eritrosit rata-rata dan untuk menegtahui ada tidaknya anemi.
Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro.
Kecepatan penurunan hematokrit dapat membantu dalam penilaian mekanisme
terjadinya anemia. Penurunan hematokrit tanpa adanya perubahan volume plasma yang nyata biasanya terjadi
pendarahan atau hemolysis (Dopongtonung, 2008).
2.4
Diferensial Leukosit
Terdapat lima jenis leukosit, yang
masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu
adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis
leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses
penyakit. Hitung jenis leukosit hanya
menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan
jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah
leukosit total (sel/μl) (Ripani,
2010).
Neutrofil memiliki
granula yang tidak bewarna, mempunyai inti sel yang terangkai, kadang seperti
terpisah-pisah, protoplasmanya banyak berbintik-bintik
halus atau granula,
serta banyaknyasekitar 60 -70 % (Handayani, 2008).
Jumlah basofil di dalam sirkulasi darah relatif sedikit.
Di dalam sel basofil terkandung zat heparin (antikoagulan). Heparin ini
dilepaskan di daerah peradangan guna mencegah timbulnya pembekuan serta statis
darah dan limfe, sehingga sel basofil diduga merupakan prekursor bagi mast cell.
Basofilia meupakan peningkatan jumlah basofil dalam sirkulasi. basofilia pada
hewan domestik dapat terjadi karena hipotirodismus ataupun suntikan estrogen.
Penurunan jumlah sel basofil dalam sirkulasi darah atau basopenia dapat terjadi
karena suntikan corticosteroid pada stadium kebuntingan (Frandson, 1992).
Komentar
Posting Komentar