III.TINJAUAN
PUSTAKA
A. Biologis Ikan
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan
jenis ikan yang berasal dari sungai nila dan danau-danau yang menghubungkan
sungai tersebut. Ikan nila didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai
Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969, bibit ikan nila yang ada di
Indonesia berasal dari Taiwan adapun dengan ciri berwarna gelap dengan
garis-garis vertikal seanyak 6-8 buah dan Filipina yang berwarna merah (Suyanto
1998).
Menurut Saanin (1982), klasifikasi ikan nila (Oreochromis
niloticus) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum
: Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas
: Osteichtes
Sub Kelas : Acanthoptherigii
Ordo
: Percomorphii
Sub Ordo : Percoidae
Famili
: Cichlidae
Genus
: Oreochromis
Spesies : Oreochromis
niloticus
Ikan nila pada umumnya mempunyai bentuk tubuh panjang
dan ramping, perbandingan antara panjang dan tinggi badan rata-rata 3 : 1.
Sisik-sisik ikan nila berukuran besar dan kasar. Ikan nila berjari sirip keras,
sirip perut torasik, letak mulut subterminal dan berbentuk meruncing. Selain
itu, tanda lainnya yang dapat dilihat adalah dari ikan nila adalah warna
tubuhnya yang hitam dan agak keputihan. Bagian bawah tutup insang berwarna
putih, sedangkan pada nila lokal putih agak kehitaman bahkan ada yang kuning.
Sisik ikan nila besar, kasar, dan tersusun rapi. Sepertiga sisik belakang
menutupi sisi bagian depan. Tubuhnya memiliki garis linea lateralis yang
terputus antara bagian atas dan bawahnya. Linea lateralis bagian atas memanjang
mulai dari tutup insang hingga belakang sirip punggung sampai pangkal sirip
ekor. Ukuran kepalanya relatif kecil dengan mulut berada di ujung kepala serta
mempunyai mata yang besar (Merantica 2007).
Ikan nila memiliki karakteristik sebagai ikan parental
care yang merawat anaknya dengan menggunakan mulut (mouth breeder) (Effendie
1997 dalam Prasetiyo 2009). Ikan ini dicirikan dengan garis vertikal yang
berwarna gelap pada sirip ekornya sebanyak 6 buah. Selain pada sirip ekor,
garis tersebut juga terdapat pada sirip punggung dan sirip anal (Suyanto 1994
dalam Saputra 2007 dalam Prasetiyo 2009).
Seperti halnya ikan nila yang lain, jenis kelamin ikan
nila yang masih kecil, belum tampak dengan jelas. Perbedaannya dapat diamati
dengan jelas setelah bobot badannya mencapai 50 gram. Ikan nila yang berumur
4-5 bulan (100-150 g) sudah mulai kawin dan bertelur Tanda-tanda ikan nila
jantan adalah warna badan lebih gelap dari ikan betina, alat kelamin berupa
tonjolan (papila) di belakang lubang anus, dan tulang rahang melebar ke
belakang. Sedangkan tanda-tanda ikan nila betina adalah alat kelamin berupa
tonjolan di belakang anus, dimana terdapat 2 lubang. Lubang yang di depan untuk
mengeluarkan telur, sedang yang di belakang untuk mengeluarkan air seni dan
bila telah mengandung telur yang masak,dan perutnya tampak membesar (Suyanto,
2003).
Ikan nila merupakan ikan omnivora yang memakan fitoplankton, perifiton, tanaman air, avertebrata kecil, fauna bentik, detritus, dan bakteri yang berasosiasi dengan detritus. Ikan nila dapat menyaring makanannya dengan menangkap partikel tersuspensi, termasuk fitoplankton dan bakteri, pada mukus yang terletak pada rongga buccal. Tetapi sumber nutrisi utama ikan nila diperoleh dengan cara memakan makanan pada lapisan perifiton (FAO, 2006).
Ikan nila merupakan ikan tropis yang menyukai perairan yang dangkal. Ikan nila dikenal sebagai ikan yang tahan terhadap perubahan lingkungan tempat hidupnya. Nila hidup di lingkungan air tawar, air payau, dan air asin. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 ppt. Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan proses adaptasi bertahap. Kadar garam air dinaikkan sedikit demi sedikit. Pemindahan ikan nila secara mendadak ke dalam air yang kadar garamnya sangat berbeda dapat mengakibatkan stress dan kematian ikan (Suyanto, 2004).
Tempat hidup Ikan nila biasanya berada pada perairan yang dangkal dengan arus yang tidak begitu deras, ikan ini tidak suka hidup di perairan yang bergerak (mengalir),akan tetapi jika dilakukan perlakuan terhadap ikan nila seperti pengadaptasian terhadap lingkungan air yang mengalir maka ikan nila juga bisa hidup baik pada perairan yang mengalir. (Djarijah, 2002).
Lingkungan tumbuh (habitat) yang paling ideal adalah perairan air tawar yang memiliki suhu antara 14oC – 38 oC, atau suhu optimal 25oC – 30oC. Keadaan suhu yang rendah yaitu suhu kurang dari 140C ataupun suhu yang terlalu tinggi di atas 300C akan menghambat pertumbuhan nila. Ikan nila memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan hidup. Batas bawah dan batas atas suhu yang mematikan ikan nila berturut-turut adalah 11-12oC dan 42oC. Keadaan pH air antara 5 – 11 dapat ditoleransi oleh ikan nila, tetapi pH yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan ikan ini adalah 7- 8. Ikan nila masih dapat tumbuh dalam keadaan air asin pada salinitas 0-35 ppt. Oleh karena itu, ikan nila dapat dibudidayakan di perairan payau, tambak dan perairan laut, terutama untuk tujuan usaha pembesaran (Rukmana, 1997).
B. Respon Organisme Terhadap Perubahan Lingkungan
Suhu
Menurut Dumairy (1992) dalam Mulyadi (1999),
suhu air dapat mengendalikan peneluran dan penetasan makhluk-makhluk air,
mengatur kegiatannya serta merangsang atau menekan pertumbuhan dan
perkembangannya. Air yang hangat pada umumnya akan memacu metabolisme,
sedangkan air yang yang relatif dingin pada umumnya akan mengendurkan aktivitas
organisme air.
Suhu berpengaruh pada kejenuhan (kapasitas air
menyerap oksigen). Makin tinggi suhu maka, makin sedikit oksigen dapat larut
(Lesmana dan Irwan 2001). Suhu air sangat berperan untuk kenyamanan ikan
(Nasution dan Supranoto, 2001). Menurut Clark (1974) dalam Mulyono
(1999), suhu berpengaruh terhadap keberadaan suatu spesies dan keadaan seluruh
kehidupan komunitas cenderung bervariasi dengan berubahnya suhu. Suhu dapat
menjadi suatu faktor pembatas bagi beberapa fungsi biologis hewan air seperti
migrasi, pemijahan, efisiensi makanan, kecepatan renang, perkembangan embrio,
dan kecepatan metabolisme.
Suhu pada air mempengaruhi kecepatan reaksi kimia,
baik dalam media luar maupun air (cairan) dalam tubuh ikan. Suhu makin naik
maka reaksi kimia akan makin cepat, sedangkan konsentrasi gas dalam air akan
makin turun, termasuk oksigen. Akibatnya, ikan akan membuat reaksi toleran atau
tidak toleran (sakit sampai mati). Ikan merupakan binatang berdarah dingin,
sehingga metabolisme dalam tubuh tergantung pada suhu lingkungannya, termasuk
kekebalan tubuhnya. Suhu luar atau eksternal yang berfluktuasi terlalu besar
akan berpengaruh pada sistem metabolism. Konsumsi oksigen dan fisiologi tubuh
ikan akan mengalami kerusakan atau kekacauan sehingga ikan akan sakit. Suhu
rendah akan mengurangi imunitas (kekebalan tubuh) ikan, sedangkan suhu tinggi
akan mempercepat ikan terkena infeksi bakteri. Pengaruh aklimatisasi atau
adaptasi dapat ditoleransi oleh ikan tertentu. Penurunan atau kenaikan suhu
yang terjadi perlahan-lahan tidak akan terlalu membahayakan ikan. Sementara
perubahan yang terjadi secara tiba-tiba akan membuat ikan stress. Akibatnya,
ikan menjadi stres, tidak ada keseimbangan dan menurun sistem sarafnya
(Lesmana, 2002).
Asam dan Basa
Hubungan
derajat keasaman (pH) dengan kehidupan ikan sangat erat. Titik kematian ikan
biasanya terjadi pada pH 4 (asam) dan pH 11 (basa). Sementara reproduksi atau
perkembangbiakan ikan biasanya akan baik pada pH 6,5 walaupun masih
tergantung pada jenisnya. Idealnya kebanyakan ikan hias air tawar akan
hidup baik pada kisaran pH 6,5-7,0.
Adanya
penyakit ikan pun berhubungann dengan naik turunnnya nilai pH. Biasanya bakteri
akan tumbuh baik pada pH basa, sementara jamur tumbuh baik pada pH asam. Nilai
pH air pada siang hari berbeda dengan malam hari. Pada pagi hari, pH air akan
turun, sedangkan pada sore hari akan naik. Hal ini disebabkan gas
karbondioksida banyak diproduksi pada malam hari. Banyaknya produksi gas
karbondioksida karena malam hari tidak ada sinar matahari. Karbondioksida
sangat berpengaruh pada penurunan nilai pH atau nilai asam (Lesmana dan
Dermawan, 2001).
Setiap jenis
ikan memiliki kemampuan toleransi yang berbeda terhadap pH. Bahkan, ikan dewasa
akan lebih baik toleransinya terhadap pH dibanding ikan ukuran lebih kecil,
larva, ataupun telur. Selain itu, setiap jenis ikan memiliki nilai pH optimal
tergantung asal atau habitat aslinya. Pada lingkungan yang berubah terlalu asam
atau tidak tertoleransi di bawah 5,5 atau terlalu alkali atau di atas 8,0 maka
akan terjadi reaksi di dalam tubuh ikan sehingga mempengaruhi perilakunya.
Perubahan pH secara mendadak akan menyebabkan ikan meloncat-loncat atau
berenang sangat cepat dan tampak seperti kekurangan oksigen hingga mati
mendadak. Sementara perubahan pH secara perlahan akan menyebabkan lendir keluar
berlebihan, kulit menjadi keputiihan dan mudah terkena bakteri (Lesmana, 2002).
Pesccod
(19730 dalam Mulyadi (1999) menyebutkan bahwa masing-masing organisme
mempunyai kemampuan yang berbeda untuk mentolerannsi pH perairan tergantung
dari suhu, oksigen terlarut, adanya aktifitas kation, dan anion serta aktifitas
biologi.
Perubahan
asam atau basa di perairan laut dapat mengganggu sistem keseimbangan ekologi.
Sebagiann besar material-material yang bersifat racun akan meningkat
toksisitasnya pada kondisi pH rendah (Williams, 1979 dalam Anggraeni,
2002)
Daya tahan
tubuh organisme dipengaruhi oleh keseimbangan osmotik antara cairan tubuh
dengan lingkungan hidupnya. Pengaturan osmotik ini dilakukan melalui mekanisme
osmoregulasi. Mekanisme ini dapat dinyatakan sebagai pengaturan keseimbangan
total konsentrasi elektrolit yang terlarut dalam air media hidup organisme
(Ferraris, 1987 dalam Affandi dan Tang, 2002)
C. Survival Rate dan Mortalitas
Survival
rate atau biasa dikenal dengan SR dalam perikanan budidaya merupakan indeks
kelulushidupan suatu jenis ikan dalam suatu proses budidaya dari mulai awal
ikan ditebar hingga ikan dipanen.
nilai SR ini
dihitung dalam bentuk angka persentase, mulai dari 0 – 100 %.
rumusnya
yaitu : SR x 100 %
SR ini
merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam kegiatan budidaya ikan.
jika ikan yang hidup saat panen banyak dan yang mati hanya sedikit tentu
nila SR akan tinggi, namun sebaliknya jika jumlah ikan yang mati banyak
sehingga jumlah ikan yang masih hidup saat dilakukan pemanenan tinggal sedikit
tentu nilai SR ini akan rendah (zulan, 2010).
Mortalitas atau kematian merupakan salah satu dari
tiga komponen demografi selain fertilitas dan migrasi, yang dapat mempengaruhi
jumlah dan komposisi umur penduduk.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
mendefinisikan kematian sebagai suatu peristiwa menghilangnya semua tanda-tanda
kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran
hidup.
Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9.5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Mortalitas berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada jumlah individual yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu (Junaidi. 2009).
Komentar
Posting Komentar